Tersebutlah awak dan beberapa orang kawan pergi ke sebuah komplek sekoah SMA LB, SMP LB dan SD LB di kota Padang tadi pagi

sewaktu sampai di lokasi awak hampir saja mau menangis.

ketika masuk kelas, untuk menyampaikan materi tentang persiapan menghadapi bencana, awak menyaksikan dengan mata kepala sendiri beberapa anak yang menderita syndrom down dan beberapa anak yang mempunyai IQ di bawah 70.

Di bangku bagian belakang duduk dua orang siswa yang menyandang tuna rungu, mereka bercengkrama dengan menggunakan bahasa isyarat. Ini adalah kali pertama awak bertemu penyadang tuna rungu di dunia nyata.

awak dan teman-teman berada di depan sebagai Ibuk dan Bapak yang akan memberi mereka materi persiapan bencana. Dari depan awak bisa melihat sorot mata yang bersemangat untuk tahu, awak juga meihat beberapa sorot mata yang sangat bahagia ketika di contohkan lagu “Kalau Ada Gempa” sambil bertepuk tangan.

Sepulang dari aktfitas itu, awak dan kawan-kawan kembali ke kampus. Salah seorang kawan dari Kimia, yang PMDK dan selalu juara umum waktu MAN yang rencanaya mau lulus bulan Maret berujar “Ondeh, bersyukur bana awak indak sarupo itu”

Apa ya? Benar, awak pun ikutan merasa bersyukur diberikan kemampuan intelegensi di atas anak-anak yang awak temui tadi.

Teringat siswa yang tuna rungu tadi, awak bersyukur Allah masih beri awak telinga yang berfungsi. Awak masih bisa mendengarkan bunyi klakson mobil saat menyeberang jalan, masih bisa mendengar native speaker berbicara, masih bisa mendengarkan nasyid kesukaan awak.Alhamdulillah ya Allah,..

Sama seperti status awak sebelum ini, sudahkan awak mendengarkan hal yang bermanfaat?

Iklan