Tag

, , ,

Lagi,  aku membahas tema ini. Namun, kali ini sedikit berbeda. Barusan dapat info senior yang mau nikah. Bagi para jombloer mendengar senior atau teman menikah rasanya gimana ya? Bingung? Nyesak?
Mungkin sebagian berfikir seperti ini.Lho kenapa aku belum nikah-nikah juga ya? Kenapa masih menjomblo?

Ada dua pertanyaan dan pernyataan yang patut ditanyakan. Satu,Seberapa jauh kita mengenal diri kita sendiri? Seberapa siap kita menanggung tanggung jawab jadi suami atau istri orang menantu atau ipar orang? Yakinlah, ketergesaan tidak membawa selain kehancuran.Dua pernyataan itu adalah pertama, Allah siapkan jodoh yang baik untuk kita jika kita baik dan Allah siapkan jodoh pezina jika kita pezina.Pernyataan kedua, Allah siapkan sesuatu berdasarkan niat kita. Jika kita berniat jadi akhwat atau ikhwah hanya untuk dapatin ikhwan atau akhwat, ya itu saja yang akan kita terima. Tanpa pahala dari Allah.

Teringat percakapan dengan seorang teman, “Ukhty, membeli sepatu saja sesusah itu, udah keluar masuk toko berkali-kali baru nemu yang pas, apalagi untuk husband ya?”

Ada kisah dua akhwat  yang pernah ku tahu. Yang satu sering mengumbar rasa sukanya, tak ghadul bashar, hamasah dalam dakwah kurang lalu mendapatkan pasangan hidup yang bukanlah penggiat dakwah. Jika aku lihat maka itu adalah sebuah ketergesaan. Yang satu lagi menjaga pandangan. Dan barusan aku dapat kabar bahwa petinggi di kampus sebelah akan nikah dengan akhwat ini, yang menjaga pandangan, hamasah dalam dakwah tinggi, bukan tipe berkoar koar namun ia bekerja dengan diam. Akhwat itu bersahaja dan sederhana namun semangatnya menggelora untuk dakwah ini jaya. Aku menyebutnya kesabaran berakhir bahagia.

Seberapa jelek diri kita, seberapa longgar atau ketatnya kita menjaga mata, hati dan pikiran, hanya kita yang tahu. Seberapa amal kita, kita yang bisa evaluasi. Dan berbicara serta jujur pada diri atas kesalahan dan dosa adalah hal penting. Diri kita tak akan bisa dibohongi walau semua orang bilang kita keren atau mengagumkan. Diri, dialah yang memberikan sinyal ‘tidak suka’ ketika kita berdekatan dengan maksiat ketika tak ada seorang pun manusia selain kita. Diri, dialah yang memberikan sinyal ‘senang’ ketika kita berdekatan dengan taqwa. Diri, dialah yang menemani keseharian hidup kita sejak kita kecil. Dengan dia kita berinteraksi sebelum dengan ruang lain yang disebut : orang lain.

Dan pekerjaan untuk menemukan ‘diri’ yang cocok dengan ‘diri’ kita tidaklah sesederhana mengatakan “ah, sepatu kamu bagus sekali. Aku jadi kepengen

bisa jadi sepatu itu memang bagus namun tidak cocok untuk kita, beda fungsi, beda material, beda tampilan, beda kenyamanan. Karena ‘sepatu’ yang cocok untuk kita ada di sana, di sebuah tempat di sana. Mungkin dia sedang memikirkan tentang siapa jodohnya dan sedang memperbaiki diri, atau lagi tilawah, mungkin lagi baca buku atau nulis skripsi. Atau, lagi deketan dengan maksiat di depan screen lap top sendirian karena kita juga lagi sering mendekatkan diri pada maksiat maksiat?

Overall, seperti postingan sebelumnya, menikah adalah sebuah jalan untuk mendekatkan diri pada Allah bukan sebaliknya. Tetaplah melihat bahwa ini adalah sebuah practicality untuk gain His heaven: Firdaus. Belum menikah bukahlah sebuah aib,  Adalah  kesalahan ketika tidak ingin menikah dan tidak mempersiapkannya.  Adalah kesalahan ketika mengumbar diri untuk PHP (pemberi harapan palsu) pada lawan jenis. Dan itu maksiat. Semoga Allah lindungi dari hal itu semua.

Penutup, Murabbi aku pernah bilang seperti ini “ketika apa yang kita inginkan berbeda dengan rasio dan logika di lapangan, maka itulah saatnya kita untuk bersabar”

semangat mempersiapkan!!

teruntuk para JOSHers di pelosok bumi
semangat menjaga diri, harga diri, dan misi surgawi
(JOSH: JOmblo Sampat Halal)

Iklan