Tag

, , , , , ,

Sore itu aku belanja di sebuah kedai di dekat kampus, tempat biasa aku jajan. Ibu penjualnya akrab ku panggil Bunda. Dia adalah seorang mantan aktivis kampus pada zaman dulunya, seingatku sekitar tahun 1990an.  Aku menanyakan apakah beliau datang ke walimahan Diniy, salah seorang teman. Beliau bilang beliau tidak datang ke pernikahan Diniy. Beliau bilang bahwa suaminya lagi sakit waktu itu.

Tiba-tiba Bunda bercerita tentang konsisntensi suaminya menyuruh Bunda menutup aurat. Entah kenapa belakangan ini hal-hal terkait rumah tangga berpendar di sekitarku. Tahun 2014 adalah tahun paling banyak aku datang walimahan, pas kemarin ulang tahun ke 24 banyak ucapan “Met Milad” dan di iringin dengan tulisan yang nadanya rada mirip dari sekian yang beri ucapan selamat ulang tahun “moga cepat nikah”

Wah, doa neeh.. 😀
aaamin.

Back to the track

Berceritalah bunda, bahwa dulu susah untuk baralek (Wedding party . bahasa Minang) memakai suntiang (hiasan yang terbuat dari kuningan atau logam lain yang dipakaikan ke kepala pengantin perempuan Minang) plus jilbab. Kalau kini mudah. Udah banyak design sehingga jilbab bisa di pasangkan dengan suntiang. Bunda bercerita banyak hal tentang privacy kamar pengantin dan keistiqamahan menutup aurat serta peran suami dalam keistiqamahan beliau menutup aurat.

Dulu susah untuk menjaga agar kamar pengantin beliau tidak ada yang masuk orang ke dalamnya. It means like the privacy of the spouse living there supposed to be really respected. Karena anak-anaknya saja untuk masuk ke dalam kamar musti pakai ketuk kamar dulu, apatah lagi orang lain.

Bunda waktu itu ketika punya bayi, dia tidak mengizinkan teman-temannya masuk ke dalam kamarnya. Beliau memindahkan bayinya ke kamar sebelah atau bisa jadi ke kamar tamu dah teman-temannya bisa melihat bayinya di kamar tesebut.

Bunda bilang bahwa kamar itu aurat. Aku juga pernah dengar hal senada di sampaiakan salah seorang teman. Ini lagi konfirmasi ke teman bersangkutan terkait dalil, May Allah show us the knowledge.

Sip, Bunda lanjut dengan kaos kaki. Bapak, kalau tidak salah itu sebutan bunda untuk suaminya, sangat concern dengan aurat istrinya. Kalaupun sedang ada di rumah di kampung, bunda hanya membuka kaos kaki pas mau ke kamar mandi. Karena kamar mandi di kampung di Sumatera Barat lumrahnya terletak di luar kamar. Aku terbayang Rumah Gadang. Ya, kamar mandinya biasanya di belakang. Dan bunda pun dalam kesehariannya saat ini menjaga kedai memakai kaos kaki lengkap dengan dalaman celana panjang. Tidak hanya itu, beliau memakai baju luaran yang besar dan tebal di atas daster terusannya. Aurat rambutnya juga di jaga dengan rapi. Beliau memakai dalamn jilbab yang menutuo hingga ke kening, agar rambut ga keluar main. Jilbabnya juga terulur rapi.

Bunda bilang waktu itu beliau pernah tidak memakai kaos kaki waktu di kampung pas keluar kamar – jalan kaki ke toilet-. Suaminya tahu kalau bunda ga pakai kaos kaki waktu itu. Padahal waktu itu ga ada non-mahram yang lihat Bunda. Dan suaminya ngambek, dia mendiamkan si Bunda seharian. Bunda mengutip perkataan suaminya “Yo, kalau tahu awak nan sagetek ko, nan sagetek ko awak pertahankan”  kalau dalam bahasa Indonesia artinya  “Ya, kalau kita tahu yang sedikit ini, yang sedikit ini kita pertahankan” dan yang sedikit yang di maksud adalah ilmu tentang menjaga aurat, pertahankan di sini maksudnya dipraktekkan.

Bunda bercerita lagi, kalau misalkan Bapak tidak keukeuh menegaskan si Bunda untuk menutup aurat maka mungkin Bunda sudah sama dengan beberapa teman yang dulunya menjaga aurat dengan rapi namun sekarang ga lagi. Begitu kuatnya peran suami menjaga istrinya untuk mengaplikasikan apa yang diperintahkan dalam Islam. #tsaaah
(Yang baca jomblo ya? sabarr,.. saya juga)

Pembicaraan diakhiri ketika suaminya sudah kembali dari masjid setelah menunaikan shalat ashar, Aku menyalami tangan si Bunda seraya berkata “Doakan Nurul ya Bunda”

setelah mengucap salam aku pergi dengan barang belanjaan sambil tersenyum mantap. “Ini harus di tulis di blog”

 

Nurul Huda, Padang 19 nov 2014

Iklan