Tag

, , , , , ,

 

Bisa di cek di insta saya juga di IG @nurulhuda27

“Gulai Ikan Jo Wartel dan Bawang Perai”

. . .
Tersebutlah saya yang belajar masak. Hm, ini cukup aneh. Seorang perempuan Minang belajar masak dan itu umur 24 tahun. Hah?

Bisa kok masak, namun masak- masakan minang hampir ga ada yang bisa semacam gulai, cancang even rendang. Wedew..

Ga ada waktu terlambat buat belajar kan ya? Dan dimulai di bulan Februari ini saya belajar masak dengan chef terkeren di dunia: Abak (Ayah. red). Dan juga Ibu saya.

Tersebutlah tadi mulai mengenal bumbu. Cara membedakan jahe dan lengkuas: dari baunya. Akhirnya saya bisa bedakan mana jahe giling dan mana lengkuas giling. 😀 Kekuatan pikiran ketika saya sedang menakar bumbu sama dengan kekuatan pikiran ketika saya sedang belajar grammar di bangku kuliah. 😀

hahaha

Tahukah apa yang paling berat saya lakukan di dapur? Menggiling bawang atau cabe secara manual. Manual itu menggunakan “Batu Lado” . Kalau di Jawa pakai ulekan, kalau di Minang pakai batu lado. Berbentuk oval dan ada batu sebesar telapak tangan untuk ‘menguleknya’. Di Minang, mengulek itu disebut menggiling. Nah, menggiling itu hampir sama ‘susahnya’ dengan menulis skirpsi. hehehe

Tadi saya disuruh Abak menggiling bawang merah, bawang putih dan damar. saya berujar histeris “Hah? Menggiling?”
Abak dengan bijaksana menjawab “Jika tidak Abak biarkan kamu menggiling sendiri, berarti Abak tidak sayang sama kamu”
Lalu saya berkata setengah tersenyum bersemangat untuk belajar masak “Iya, Bak”

Lalu saya gilinglah itu bumbu. Biasa, ada adegan menangis karena bawang merah yang digiling. hahaha

Setelah bumbu kelar, perkerjaan selanjutkan adalah memeras kelapa untuk menghasilkan santan. Ibu tadi menolongkan saya untuk memarutnya dengan mesin pemarut kelapa. Saya tukang memeras saja. Dan ini salah satu ‘pekerjaan’ ‘tetap’ saya jika di dapur. Sering di suruh ortu memeras kelapa.

Set, setelah itu abak mengambilkan daun-daun untuk gulai. Daun kunyit, sereh, daun salam, daun limau dan  daun ruku-ruku yang tersedia di halaman rumah. Abak saya keren kan?

Tadaaa.. selesai semua bumbu dan ikan serta wartel dimasukkan. Saya ga sabar mencicipinya. Wanginya dah mirip di restorant Minangkabau (Restorant Padang, red) Pada saat menyicip yang pertama “Eh, ada yang kurang”
set.. saya tambah garam.

Tiba tiba “Enak binggggitz!”
lalu saya cobakan ke Abak. “Garamnya sedikit lagi” kata Abak dengan wajah khasnya.
Baiklah, kalau begitu saya tambah garam setengah sendok teh lagi. dan Jenggg.. “Enak nya pas!”

ketika Ibu dan Abak mencobanya
“Masakan anak Abak, enak ternyata”
“Enak, Nur” Ujar ibu dengan wajah happy. Nur adalah panggilan rumah saya. Biasanya yang manggil Nur itu orang tua-tua, Abak, Ibu, Uni, Abang,  Mamak, istri-istri mamak.

Biasanya di kampus di panggil Nurul. Kalau di kelas di SMA di panggil Huda.

Senang sekali saya hari ini. Masakan saya dipuji oleh 2 orang terpenting di bumi saat ini: Ibu dan Abak saya

hahaha…
ahamdulillah…

 

Iklan