Tag

, , , , , , , ,

Sekarang umur saya udah seperempat abad, telat ga sih untuk berubah?
Kata teman adik saya (jauh banget referesnsinya)
“kita itu tidak terlambat, karena perjuangan itu tidak hanya satu!”

Eaaaa…

Perjuangan mencari diri. Hahaha,, terkesan lebay.
Ah ga juga ini mau serius nulis. 1 2 3… bersiap

Tadaaaaa…

1. Rutininas
Apa itu rutininas? Semacam kue atau bakso pakai bawang goreng berlebih? Tidak. Bagi saya rutinitas itu -dulu- adalah sesuatu yang sangat membosankan dan tidak penting.

Tulisan saya ini adalah berdasarkan diskusi dengan salah seorang teman. Bagi dia, rutinitas itu ga penting, tapi dia bisa tahan dengan rutinitas.

Dan salah satu guru saya bilang, bahwa rutinitas itu penting. Talenta seseorang ga akan bisa terfungsikan dengan optimal jika tidak melakukan rutinitas sebagai manusia seperti daily chores yang dilakukan.

Saya ga bilang saya ga lakukan daily chores kok, saya bilangnya bahwa saya ga suka rutin, kan jadwalnya bisa di ganti-ganti

Parahnya, ketika saya berpikir bahwa jadwalnya bisa di ganti-ganti, akhirnya bentrok dengan agenda super penting dan sayanya kelabakan sendiri

Hahaha
Akhirnya selesai juga agenda, tapi dengan energi super banyak..
phew..

2. Automatic Self motivated
Hm, dalam hidup pastilah ada kalanya kita ga mood menghadapi hari. #Tsaaah. Dan gimana caranya untuk bisa memotivasi diri sendiri? You can go traveling. Bagi orang-orang yang dominan introvert, cara mereka memotivasi diri adalah dengan ber-sendiri. They can motivate themselves this way. Nah, bagaimana nasib orang-orang ekstrovert macam saya? hahaha.. Kadang, bisa dicoba juga resep orang-orang introvert, ya.. dengan bersendiri.

Bersendiri memikirkan tujuan hidup, bersendiri di kafe minum kopi atau es krim favorit. Bersendiri lari pagi lalu menantap langit dan pepohonan. Bersendiri update status di fb atau ngetwit tentangn lagi bersendiri. Bersendiri nulis di blog seperti yang saya lakukan pagi ini. Pokoknya bersendiri dah 😀

3. Self confidence
jENGGGG…
bahasan ini, sering saya tulis kayaknya. Hahaha.. Kata salah seorang sahabat, saya terkena semacam ‘inferior kompleks’. Ga PeDe-an gitu.. serius, kadang gitu loh..

Alhamdulillah berkesempatan ngomong sama teman yang PeDenya ga ketulungan (serius, nih anak PeDe abis). Disamping achievement yang dia emang punya, dia punya PeDe yang baik. Bertanyalah saya tentang opini dia terkait self confidence.
Dia bilang bahwa untuk diakui dalam sebuah lingkungan maka butuh self confidence, kalau tidak orang-orang ga bakal tahu bahwa kamu ada. (Seperti hantu berati, ada yang dianggap tidak ada.. hihihi)

Dan, in deep, teman saya bilang bahwa jika kita tidak PeDe dengan apa yang kita yakini, jalan hidup yang kita ambil, bagaimana orang lain akan mau mengambil jalan hidup yang sama dengan kita.

Bahasan ideologi, hahaha, langsung otak saya ter-connect dengan ini. Siapapun di dunia, bakal berusaha mengajak orang lain untuk ikut dalam ‘jalan hidup’ yang mereka yakini benar. Teringat salah satu debate di Cambridge “This house belive that religion has no place in 21st century” Tariq Ramadan bilang “Everyone, either Muslim, Christian, Jews, or Atheist will try to convert people to be them” Hahaha..

so, have self confidence 😀

4. Challenges
Tantangan itu apa?
Again, untuk saya, tantangan itu tidak sering keluar sebagai vocabulary saya. Yang sering saya ujar semacam: kreativ, imajinasi, bebas, rebellious. Hehe..

Ini dia, kata yang sering menyesakkan dada ketika mengujarnya : tantangan.
Saya bukan penyuka tantangan, pada dasarnya penyuka kebebasan. Sebenarnya apa itu tantangan dan bagaimana cara menghadapinya?

lagi, berkesempatan nanya ke orang yang penyuka tantangan namun suka safe zone. Penasaran? Ini dia..

Tantangan itu adalah syarat naik kelas. Naik kelas ke kelas yang lebih baik dan baru. Dan itu butuh tantangan. Orang-orang besar tidak dilahirkan dari kehidupan yang datar-datar saja. Mereka lahir setelah melewati onak dan duri.

so, tantangan itu dilihat sebagai pintu untuk menjadi lebih baik..

5. Weakness
Kelemahan. Ini seperti monster. Sesuatu yang kadang saya ingin kabur dari yang satu ini dan menganggapnya tidak ada. Hahaha..
Kembali serius mode: On… Ini juga hasil kepoan saya ke salah satu kawan.

So how to deal with weakness?
Tapi sebelumnya kita musti tahu, kelemanan itu apa sih?

Kelemahan adalah sesuatu yang ada di setiap diri manusia. Itu mungkin ga bisa dihilangkan, yang ada cuma itu bisa diminimalisir.

So, pertama-tama kita musti bisa melihat dimana kelebihan dan kekurangan kita. nah, kekurangan kita itu bisa ditutupi dengan kelebihan yang kita punya, dengan sembari memperbaikinya sebisa mungkin (kekurangan itu).

Contoh kekurangan itu adalah: takut darah. So, jika kita udah tahu bahwa kita takut darah makan jangan jadi dokter, bakal susah. Maka ambil jurusan lain yang mewadahi kelebihan kita. Misal, kalau ahli ngomong atau belajar bahasa dengan runut dan tahan dengan teori-toeri detail menelisik ya ambil linguistik. Dengan begitu bisa optimal kita di field itu.

But berore that, yang harus diakukan adalah meninvetaris kelebihan dan kelemahan kita. Itu yang pertama-tama musti dilakukan. Kalau saya pribadi salah satunya dalah membaca buku motivasi yang bahas tentang personality. Situs 16personalities.com juga salah satu acuan saya. Yet, ini bukan semuanya harus IYA sesuai dengan apa yang dikatakan para pakar tentang kepribadian kita masing-masing. Bagi saya, yang setelah dilakukan test bahwa saya adalah seorang ENFP, bukan berarti saya harus 100% ekstrovert, dan benci pada rutinitas bukan? Ada hal-hal yang harus di ubah untu bisa menucapai ‘keseimbangan’ sebagai manusia –> inspired by tulisan Dr Akram Ridha.

Jadi ingat hadist dari abu Hurairah “Bersungguh-sungguhlah dalam (mengerjakan) hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan dari Allah dan janganlah bersikap lemah” (HR Muslim)

hasil kepoan saya dari Hidayatullah.com terkait hadist di atas

“salah satu kunci kebaikan dan kekuatan itu adalah kesungguhan yang benar-benar kuat dalam hal-hal yang bermanfaat. Ia bersemangat melakukan manakala mengetahui bahwa itu merupakan kebaikan yang membawa manfaat bagi agama, betapa pun ia tak begitu menyukai. Ketiga, tak akan kuat dan tak akan sanggup kita menghadapi keadaan jika kita merasa lemah (تَعْجَزْ); yakni merasa tak sial, tak ada harapan, atau sia-sia.

Di antara perkara yang mudah menjatuhkan kita kepada perasaan lemah, sial dan tak ada harapan adalah hilangnya pengharapan hanya kepada Allah Ta’ala dan sibuk menyesali apa yang telah berlalu disebabkan lemahnya iman kepada takdir; sibuk meratapi apa yang telah lewat seakan sehingga ingin mengubah masa lalu. Padahal, seburuk apa pun keadaan yang ada di hadapan mata kita, tetaplah pandangan lurus ke depan. Bukan semata soal optimisme, tetapi yakin pertolongan Allah Ta’ala sangat dekat

ck ck ck,..

sipp,, kembali ke masalah kelemahan di atas. So, bagaimana dengan kelemahan tadi? Jika ia adalah sesuatu yang telah melekat dan susah diperbaiki atau bawaan dari lahir something like innate things, so what we can do is to find ways to optimize our strength in other part. Seeing the personalities type of us to see our ‘tendencies’. After seing the best part of us, baru buat peta hidup yang nantinya akan mengotimakan kelebihan yang kita punya.

kata Ridwan Kamil pekerjaan paling enak itu adalah hobi yang dibayar. Nah, setting peta hidup berdasarkan kelebihan. Kan enak itu, udah ngerjain hobi, dibayar pula…hahaha

Hm, tunggu,.
kalau lelet itu kekurangan ga ya?

Teman saya menjawab: lelet itu bukan kelemahan, itu kebiasaan.
Ini dia pernyataan yang membuat menohok sekaligus memotivasi. Hahaha, so bagi yang rada lelet, masih ada harapan untuk menjadi baik: ubah kebiasaan 😀

Nah, kalau tantangan itu dimana?
Bukannya tantangan adalah sesuatu yang memayahkan dan tidak mengenakkan? Adakah hubungannya dengan kelemahan

Teman saya yang sabar mendengarkan celotehan saya membuat saya menulis ini:

Tantangan itu tidak untuk dihantamkan dengan kelemahan, dia adalah peng-up grade kelebihan yang kita punya

Misalkan bagi para karyawan dia diberi tantangan oleh si Bos untuk menghandle proyek satu provinsi. Nah, si karyawan si X emang talennya di bidang menejerial misalnya. Karywan yang lain si Y dan Z juga. Namu si Y dan Z tidak mau mengambil tantangan itu karena merasa sudah cukup menghadle proyek satu kota. Ditambah lagi kemungkinan untuk diturunkan posisi jika gagal menghandle proyek satu provisi yand ditwarkan. si Y dan Z memilih untuk tidak mengambil tantangan itu. Si Y dan Z memilih untuk bermental cemen di sini. Sedangkan si X melihat ini sebagai tantangan untuk meningkatkan kemampuan managerialnya, dan dengan self confidence yang tinggi dia menggambil tantangan si Bos. Dengan paham sepahamnya bahwa konsekuensi bahwa dia harus bekerja lebih dibanding teman-teman seperjuangannya dan sadar jika gagal maka posisinya diturunkan.

Nah, itu dia, disana tantangan bekerja: meningkatkan kemampuan dengan membuat manusia bekerja lebih keras dan lebih cerdas karena paham akan talenta kesempatan dan konsekuesi yang ada dan dipunya,

dengan mengeset bahwa begitulah tantangan, maka tidak ada lagi ketakutan. Karena ia bekerja untuk peningkatan keahlian 😀

. . .

Masih mikirin tentang kebiasaan yang jelek tadi ya guys? hehe.. saya kepikiran. Nah, tentang lelet misalnya. Dulu saya pernah search di productivemuslim.com tentang mengugah kebiasaan. Ada satu notion yang sangat mengubah!!

here it is :
“Zeigarnic Effect : A psychological tendency which explain that it is in our human nature to finish what we start
ProductiveMuslim-Doodle-of-the-Month-Better-Habit-Making-A-Scientific-Perspective-600 (1)Well,
Done… selesai nulis itu rasanya senang bingit.
yeah, kayak hasil peneltian buk Zeigarnik:: uncompleted tasks will stay on your mind until you finish them!

Bukittinggi
8 April 2015

Iklan