Tag

, , , , , , ,

bertanya tentang kenapa harus bekerja keras dan belelah-lelah. Tidakkah kehidupan di dunia adalah mencari kesenangan? Kenapa harus melakukan kerja. Yang berarti adalah kepayahan. Tidak. Aku tidak mau mengerjakan sesuatu yang membuatku kepayahan. Lebih baik ku lakukan yang membuatku nyaman saja. Safe zone adalah tempat ku berdiri hingga nanti. Tak akan mau ku ke sana, lapangan luas dengan segala kepayahan dan segala kerja yang membuatku capai tak terkira. Aku di sini saja, duduk menikmati suasana.

. . .

melakukan hal yang sukar

Dalam menjalani hari sebagai manusia ada tuntutan untuk melakukan hal yang berat, misalkan: memberi makan orang miskin, menepati janji, hidup rapi, bersosialisai dengan lingkungn dan mengerjakan amanah lainnya. Yang pada sebagian orang hal itu mungkin adalah hal mudah namun bagi sebagian lain adalah hal yang sangat sulit bin sukar. Kita tak perlu membahas bagi mereka yang merasakan hal itu adalah mudah, kita membahas untuk mereka yang merasa hal itu adalah kesukaran yang berarti mengkondisikan diri di salah satu hal-hal di atas adalah meletakkan jiwa mereka di luar zona nyaman.

Dari mana kita mulai? Apakah dari memaksa diri untuk merubah perilaku? Tidak, kata akram ridha perubahan perilaku adalah perubahan yang sementara. Yang harus di ubah pertama kali adalah paradigma. Ya, cara pandang terhadap hidup. Terkadang kita menganggap cara pandang hidup di masa lalu adalah “hukum” yang tidak akan pernah berubah. “Aku orangnya begini, ga suka hal yang ribet-ribet.” “Aku golongan darah B maka terima aku begini, ga suka terikat pada komitmen yang memayahkan” atau bisa jadi sesuatu yang terpatri di kepala yang cukup mengerikan “Aku anti zona tidak nyaman”

terbayanglah apa yang terjadi bagi orang yang telah menjadikan “Anti zona tidak nyaman” sebagai “hukum” dalam kehidupannya. Orang seperti ini bisa sangat ahli di bidang yang di sukainya. Dia bisa menjadi rujukan di bidang yang dia senangi. Bisa juga dia menjadi seorang yang sangat profesional di bidangnya. Namun sayangnya sedikit saja dia terkena masalah , sakit atau di timpa musibah, maka seolah hari itu adalah kiamat baginya. Karena baginya “Zona Nyaman” adalah niscaya. Jika ditelisik ulang, maka sebenarnya penganut hukum “Anti zona tidak nyaman” ini bisa menjadi lebih ahli di bidang yang digelutinya sekaligus berdampak lebih luas bagi masyarakat jika ia mau mencoba berjalan di luar garis “Safe Zone” yang secara imaginer dibuat di kepalanya.

memaksa mereka yang tidak mau mengubah paradigma dengan memaksa mereka melakukan tindakan disiplin tidak akan banyak membawa perubahan yang berarti. Mungkin kita bisa lihat mereka menurut, atau berusaha keras mencapai target-target yang kita buatkan untuk meraka. Namun, hal itu tidak meresap hingga hati. Hal itu hanya menjadi kulit luar yang seketika –ketika lingkungan tidak mendukung, tidak ada supervisi- maka akan mudah dia kembali berubah ke perilaku awal.

Jadi bagaimana mengubah paradigma itu?

Jawabannya adalah dengan meneliti apa yang sulit dikerjakan. Misalkan: saya sulit bangun pagi, saya sulit mencintai orang lain, saya sulit untuk tepat waktu, saya sulit untuk beres-beres, saya sulit untuk bersedekah. Setelah itu, cek lagi apakah hal yang di sebut di atas adalah hal yang baik atau tidak. Tentu jawabannya hal di atas adalah hal baik.

Namun, datang lagi pertayaan: “Iya, saya mengerti itu semua baik, tapi sulit sekali bagi saya untuk melakukannya. Tidakkah lebih baik bagi saya untuk melakukan kebaikan yang lain yagn lebih mudah untuk dikerjakan: misalnya berkonsetrasi belajar yang nantinya akan membuat masa depan saya lebih baik ketimbang melakukan hal yang sulit bagi saya? Hal-hal yang sulit bagi saya bisa dilakukan oleh orang lain.”

Pertanyaan di atas masuk akal. Yakni melakukan hal kebaikan yang mudah dilakukan daripada melakukan kebaikan yang sulit untuk dilakukan. Namun, dalam kehidupan ini kita tidak hidup di dalam diri sendiri. Kita tidak hidup dalam peta –meminjam istilah akram ridha- ‘diri saya saja’. Kita hidup dalam peta lebih luas daripada peta diri kita sendiri. Kita hidup di atas peta dimana ada kita, orang tua, saudara, sahabat, teman, negara dan dunia. Semakin besar kita melihat peta kehidupan kita, semakin kita mampu menekan ego diri yang hanya mau melakukan apa yang kita suka tanpa mempedulikan sekitar.

Karena kita hidup tidak sendiri, ada ekspektasi-ekspektasi orang lain yang mau tidak mau terlekat pada diri kita. Misalkan terhadap fungsi sebagai anak. Orang tua berharap kita menjadi anak yang baik dan menyenangkan hati mereka. Menyenangkan hati mereka dalam bentuk apa? Mungkin menolong mereka dalam melaksanakan pekerjaan rumah, atau memperlihatkan pada mereka kita bisa mandiri dan mampu mengurusi diri kita sendiri tanpa supervisi dari mereka.

Iklan