Tag

, , , , , , , , , ,

Mencari tujuan hidup (artikel)

Banyak yang bertanya hidupnya mau ngapain. Apakah jalan yang di ambil sudah benar atau belum. Sebenarnya hidup itu untuk mengikuti teori psikologi, science, atau sosiologi? Well, pertanyaan yang sebenarnya mendesak untuk di jawab. Belum lagi rasa rendah diri “Sepertinya saya salah selalu. Ah, saya selalu salah”

Pada sebagian orang, hidup itu dijalani aja, ga perlu pakai teori-teori. Nanti juga bisa. Pada sebagian orang lainnya, perlu waktu dari SMP hingga kuliah untuk paham arti perbedaan dan mempunyai kemampuan menghargai perbedaan tanpa menyudutkan orang yang berbeda dengannya.

Jadi mau kemana semua ini? Mari kita bahas satu-satu.

Hidup itu mau ngapain. Ya, mengetahui kita hidup untuk apa adalah kesuksesan besar. Kenapa? Karena itu berarti kita telah sukses menggapai setengah langkah besar dalam hidup. Sisanya setengah lagi adalah menjalaninya. Pertanyaannya adalah kapan seharusnya pertanyaan ini dijawab.

Jawaban ini perlu pertanyaan, proses mencari jawaban dan akhirnya menemukan jawaban. Namun semakin lama proses ini dimulai, semakin banyak bakat kita yang terbuang. Pernahkan kamu bertemu orang berumur 40 tahun dan masih tidak tahu tujuan hidupnya untuk apa? Itu adalah karena jawaban ini tidak dicari tahu sejak kecil. Semakin cepat jawaban ini ditemukan semakin baik. Maka akan semakin terarah kehidupan sesorang itu. Kerugian waktu materi dan moril bisa dikurangi, dan produktivitas seseorang itu bisa di mulai dengan gencarnya sejak sangat muda.

Pertanyaan selanjutnya, (kenapa penulis ini sering sekali nulis kata “pertanyaan”. Karena hidup itu penuh tanda tanya bro 😀 hehehe) Bagaimana caranya untuk tahu tujuan hidup itu apa? Lewat teori atau lewat buku atau bagaimana? Bisa lewat kitab suci atau bisa lewat analisis psikologi atau hasil wawancara pada orang sekitar. Sebagai Muslim, telah ditentukan tujuan hidup manusia sebenarnya  adalah untuk beribadah pada Allah “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada Ku.” Adz-Dzariyat ayat 56

 

Apa tujuan hidup itu hanya untuk shalat dan puasa serta naik haji saja? Dalam islam ada hablum minallah dan hamblum minannas. Tidak tentang shalat saja tapi juga bagaimana berakhlak pada orang lain.

Nabi Muhammad menontohkan bagaimana shalat, bagaimana berakhlak pada teman, orang tua, tetangga bahkan musuh sekalipun. Bagaimana bersosialisasi dan berkomunikasi yang baik sesama manusia. Eit, tidak hanya bagaimana berlaku baik pada manusia, juga pada binatang lho.

Ketika pelaksanaan qurban di hari raya Idul Adha Rasulullah menyuruh kita untuk tidak boleh membiarkan hewan yang akan disemblih melihat hewan lain yang sedang disemblih “Karena yang menyembelih dan di sembelih sama-sama mempunyai perasaan”, begitu beliau bersabda. Dan, jika dikatakan bahwa peristiwa Idul Adha adalah pembantaian yang tidak berperi kebinatangan rasanya agak kurang masuk akal.

Berdasarkan ahsil peneliatian dokter ahli hewan di jerman proses pembantaian hewan ala Islam tidak membuat hewan merasa tersakiti. Bagaimana mungkin? Karena di semblih menggunakan pisau yang tajam, dan memutuskan  pembuluh vena dan arteri di leher  yang kemudian ketika di cek otak si sapi yang di sembelih berada pada kondisi sama dengan kondisi tertidur. Belum lagi chip yang dipasangkan di jantung si sapi memperlihatkan bahwa darah si sapi dipompa dengan cepat dan itu berarti daging sapi yang disemblih ala islam adalah daging sapi yang sehat karena darahnya keluar dari daging, sehingga meminimlisir pertumbuhan bakteri yang membawa penyakit.

Penyembelihan versi konvensional dengan metode stunning –mempingsankan- si sapi menyebabkan kondisi sebaliknya. Sapi merasa sangat kesakitan , terlihat dari chip yang dipasangkan si dokter hewan di otak. Saking sakitnya, jantungnya hampir tidak bisa memompa darah keluar. Akhirnya, hasil daging sapi yang dihasilkan kurang sehat karena masih banyak darah yang tersisa di daging.

Sorry, saya jadi kemana-mana. Hehehe..
Kembali ke bahasan awal. Jika sudah tahu hidup kita adalah untuk beribadah pada Allah yang itu berarti beribadah pada Nya dan mengikuti perintahNya untuk berakhlak baik pada manusia dan binatang serta menjaga alam. Berbicara tentang menjaga alam . (teman-teman cek surat Ar Rum ayat 41 dan cari tafsirnya ya.. nanti tulisan saya kepanjangan :D)

Okay kita diciptakan untuk tujuan sama untuk beribadah padaNya . Saatnya berlanjut ke analisis selanjutnya: bagaimama mencapai tujuan yang sama sedangkan banyak manusia mempunyai karakter berbeda ? Atau jangan jangan kita harus berkarakter sama untuk mencapai tujuan yang sama. Jika iya berarti di dunia ini hanya ada karakter yang benar. Misalkan pendiam, demen baca buku, dan dan kalau jalan sukanya menunduk. Apakah seperti itu? Dan semuanya harus berpakaian dengan warna yang sama semisal hitam saja atau pink saja. Jadi bagaiama ini sebenarnya?

Hehehe, ada jawabannya Al baqarah ayat 183 “Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?” Al baqarah ayat 183. Sibghah atau celupan. Maksudnya begini. Coba teman teman ambil satu gelas berisi cat air berwarna putih. Lalu celupkan secarik kain berwarna merah. Lalu cokelat atau hitam. Perhatikan apa yang terjadi pada kain yang berbeda warna tersebut. Apakah kain merah itu berubah menjadi hijau? Tentu tidak. Kain itu tetap berwarna merah hanya bedanya warnanya menjadi merah keputih-putihan. Kain cokelat dan hitam tidak berubah menjadi biru langit atau kuning. Tetap dengan warna yang sama namun agak keputih-putihan.

Nah, itu dia islam tidak membuat kita berubah warna menjadi warna lain. Islam hanya mewarnai karakter kita. Membingkainya agar sejalan dengan tujuan hidup.

Sahabat Rasulullah saja punya karakter yang berbeda. Ada yang garang dan mantan preman macam Umar Bin Khattab. Bijaksana dan teguh hati seperti Abu Bakar. Sangat pemalu seperti Utsman bin Affan yang kalau mau mandi itu adalah di rumah, di dalam kamar, yang di dalam kamar ada ruangan khiusu untun mandi pakai tirai dan kemudian mandi di bath tub dan itu pun ia masih pakai kain di atasnya dan mandi dalam keadaan membungkuk.

Belum lagi saking pemalunya ia, ia malu kalau ia berkelimpahan harta di Makkah sedangkan ada panceklik di Madinah sehingga ia mengirimkan 1000 onta lengkap dengan muatan bahan makanan di sisi kanan kiri kanan yang kalau dirupiahkan sekarang kalau tidak salah setara dengan 100 juta rupiah per unta. Pemalu kan? Belum lagi yang melankolis seperti Bilal bin Rabah, atau koleris seperti Abdurrahman bin Auf si saudagar kaya…

Beda beda karakter tapi semuanya berbuat yang terbaik untuk beribadah pada Allah 😀

Pertanyaan selanjutnya, tentang bagaimana agar tahu warna kita apa? Jawabannya adalah dengan melihat bagaimana kita berinteraksi dengan orang sekitar dan bagaimana komen orang-orang terdekat tentang kita. Kita bisa mewawancara Ibu, adik atau sahabat kita, guru-guru juga bisa. disana ketahuan apakah kita pendiam, periang, atau psikopat . heheh,.. #peace

Kalau cara yang lebih saintifik, bisa cek pakai MBTI test. Tes ini untuk menemukan karakter kita sebenarnya seperti apa. Teman teman bisa cek di  www.16personalities.com atau versi indonesianya juga udah keluar. Silakan googling 😀

MBTI test manurut saya lebih komplek daripada pembagian pragmatic, melankolis, sanguinis dan koleris sehingga bisa memudahkan kita untuk mengidentifikasi karakter.

Dalam MBTI test juga disebutkan keahlian yang biasanya dimilik oleh pemilik karakter tertentu. Misalkan, ESTJ biasanya ahli di bidang akuntansi atau ENFP ahli di bidang seni dan pendidikan. Disana juga disebutkan pekerjaan-pekerjaan yang cocok untuk ke 16 macam karakter.Jadi, nanti tinggal dicocokkan saja dengan karakter kamu dan pekerjaan apa yang cocok untuk kamu.

Selain mengetahuinya dengan MBTI test, kita bisa mengetahuinya dengan mendeteksi apa bakat yang kita punya. Kata Mario Teguh“Bakat Anda adalah sesuatu yang Anda kerjakan dan Anda merasa detik jarum jam berhenti ketika Anda melakukannya” Nah, itu dia 😀

Meng-Kepo-in ortu dan orang tua serta melihat sejarah hidup kamu sejak kecil juga bisa menjadi salah satu cara untuk melihat bakat yang kamu punya.

Oke, hal itu bisa untuk mendeteksi bakat yang kita telah punya. Hambar dong hidup kalau kita sudah tahu “semua peta hidup”? ga juga.. Kata Nouman Ali Khan, untuk tahu secara pasti kita ahlinya di mana, maka lakukan banyak hal. Lakukan banyak pekerjaan. Nouman Ali Khan ini siapa ya? Ehem, dia adalah Salim A FIllah atau Felix Siaw nya anak-anak muda Amerika Serikat.

Nouman mengkritik anak muda yang terlalu banyak berkonsultasi kepada banyak orang dan namun kemudian akhirnya bingung karena setiap 100 orang akan memberikan 100 buah saran yang berbeda dan akhirnya si pemuda yang bertanya memutuskan untuk akhirnya tidak melakukan apa-apa sehingga menjadi tidak ada apa-apanya.

Jeng!!! Ini salah satu anak muda yang kurang benar, kenapa? karena ia sudah kepo sana sini tapi tidak mau mengambil langkah pasti. Ask only no action. Nanya-nanya aja, tapi tidak melakukan sesuatu..

Agar kehambaran hidup itu dihindari maka cobalah banyak hal, Tapi jangan lama-lama, setelah mencoba banyak pekerjaan yang disukai maupun yang dibenci, maka kita akan mendapatkan dan mendeteksi kelebihan dan kekurangan kita dimana. Lalu bisa dijadikan MBTI test tadi sebagai salah satu acuan, meski tetap saja yang buat MBTI test itu adalah manusia dan itu belum sempurna. Namun, untuk saat ini, menurut hemat saya test tersebut adalah salah satu yang bisa diperhitungkan.

Sedikit menambahkan, kata Rhenal Kasali, seorang  driver yang baik itu adalah mereka yang tahu apa yang mereka punya, tahu kemana tujuan, awas ketika mengemudikan kehidupan, dan tahu bagaimana mencapai tujuan dengan cepat tepat. Anak muda yang bertipe driver bukan passanger adalah anak muda yang bisa memimpin. Dia bisa memimpin dirinya dan tidak membeo.

Mereka mengambil resiko yang terukur untuk meningkatkan produktivitas dan mencapai tujuan. Mereka yang driver adalah mereka yang melek terhadap apa yang terjadi di dunia dan mampu melihat peluang kesuksesan. Bukan passanger yang kerjanya hanya duduk dan tidak tahu kemana arah jalan dan peta. Bahkan dalam kehidupan, para passenger bisa tiduran namun driver musti tetap terjaga. Eaaa…

Jadi bagaimana? Yang mana yang harus di ikuti? selama itu membuat kamu cukup nyaman namun seluruh potensi kamu bisa tergunakan hingga optimal dan tidak bertentangan dengan norma agama dan sosial. Kalaupun di jalan nanti ada tantangan, bacalah sejarah orang-orang besar dalam menggapai mimpi atau diskusi sama mereka yang udah sukses atau para orang tua untuk tahu jalur mana yang musti di ambil dan Go ahead!

. . .

“Sepertinya saya salah selalu. Ah, saya selalu salah”

Nah kalau yang ini bagaimana? Ini masalah rendah diri. Hehehe,.. tunggu dulu, terkadang ada orang yang memilih untuk tidak memperlihatkan kelebihan karena takut disangka sombong.

Sebentar, kita bahas sedikit masalah sombong. Seorang pemuda mengatakan bahwa dia suka memakai sandal bagus dan baju bagus saat berjalan. Apakah itu dikategorikan sebagai kesombongan? Ternyata Rasululllah menjawab tidak. “Kesembongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain” Nah ini dia definisi sombong: menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Apakah berjalan dengan menggunakan rizki yang diberikan oleh Allah adalah kesombongan. Ternyata tidak, ini adalah cara untuk memperlihatkan bahwa “Tuhan gw Maha Kaya dan Maha Pemberi Rizki, Nih liat, gw punya baju mentereng, gadget kece n mobil baru yang limited edition” No problem.

Jadi jika ilmu atau bakat kita dilihat sebagai rizki maka tidak mengapa kita memperlihatkannya kepada orang lain. Niatnya bukan untuk show off tapi untuk kasih lihat ke manusia “Tuhan gw Maha Mengetahui dan Maha Pemberi” Ya.  Allah memberi kita ilmu dan memberi kita pengetahuan dan bakat. Ini salah satu cara kita mensyukuri nikmatNya dengan cara membagi-bagikannya kepada orang lain. Bagi bagi ilmu… 😀

Kembali ke rendah diri tadi. “Saya selalu salah” Iya benar, kita manusia ini banyak salah. Banyak buat dosa, bermaksiat, memungkiri janji de el el. Tapi apakah itu membuat kita menjadi pesimis dan kemudian mengeluarkan statement “Ah, saya selalu salah” dan kemudian berakhir dengan putus asa lalu menemui kematian dengan menggenaskan bergelimang dosa dan nantinya ketemu malaikat penjaga neraka sambil nanya “Kemana aje bro? Udah gw tungguin dari tadi? Tuh baranya udah sangat membara.”

Tariq Ramadan, seorang Professor di Faculty of Contemporary Islamic Study  Oxford University menyebutkan dalam salah satu seminarnya “Jika ingin membuat perubahan setelah menyadari kesalahan, jangan mulai dari kejahatan apa yang telah Anda lakukan, namun mulai dari kebaikan apa yang Anda punya.”

Mulai dari kebaikan yang kita punya. Masih galau apakah kita  punya potensi berbuat kebaikan atau tidak? Dalam surat As Syams ayat 8 “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” .

 

Yap.. Kita punya potensi untuk kefasikan (kejahatan) dan ketaqwaan (kebaikan). Punya potensi untuk menjadi pembunuh dan penyelamat. Orang yang hobi berbuat jahat dan orang yang hobi berbuat baik. Pembela kejahatan dan pembela kebenaran. Kita punya potensi untuk itu. TInggal mau mengasah potensi yang baik atau yang jahat.

 

Dengan ini kita dapat beberapa hal.  Manusia punya kemampuan untuk berbuat jahat dan baik. Manusia melakukan kesalahan namun bukan berarti itu adalah akhir dari segalanya. “Ikutilah kesalahan itu dengan kebaikan, maka kebaikan akan menghapus kesalahan itu”. Dan mulailah perubahan itu dengan melihat kebaikan apa yang anda punya dan kamu bisa lakukan, kawan 😀

 

Jadi ketika kita menemukan kesalahan yang kita lakukan bukan berarti itu adalah langit runtuh,  tsunami datang atau semua  nilai A  yang ada di ijazah kamu berubah jadi E. Kita melakukan kesalahan adalah karena iman kita lagi turun, dan sadar bahwa Tuhan kita Maha Pengampun lalu kita minta ampun lalu berbuat kebaikan yang kita bisa lakukan adalah hal yang bisa membuat kita mendapatkan ampunan sekaligus bonus. Bonus nya kita dapat pahala unlimited. Seperti kata Yasir Qadhi di salah satu ceramahnya. Yasir Qadhi adalah Buya Hamkanya orang amerika.

 

Jadi, oleh karena itu, kita harus berani mengakui bahwa kita berbuat pernah salah dan berani mengakui bahwa kita pernah berbuat benar.

Dalam menghadapi hidup kita musti tahu tujuan; mau kemana semua ini. Tahu peta dan kemampuan. Tahu kemana hendak bertanya. Tahu mana potensi maksimal kita yang punya untuk memaksimalkannya bagi peradaban manusia sehingga dapat pahala tak terhingga di akhirat dan di sapa malaikat penjaga pintu surga “Kemana aja gan? Nih, kunci istana, udah saya siapin dari jauh jauh hari. Kalau ada apa-apa panggil aja malaikat-malaikat dan bidadari-bidadari yang stand by 24 hours, gan.”

Berbuat salah itu niscaya, karena kita manusia. Memang untuk disesali namun bukan untuk dijadikan amunisi penguat argument “saya orang pendosa yang ga bisa jadi baik”. Bangkit, dan karena disana, di setiap sanubari manusia, ada tersedia kebaikan.

Wassalam
Orang yang lagi mencoba jadi baik
Nurul Huda

Balikpapan 7 April 2016

Iklan